Jumat, 27 Februari 2009

Trauma Konseling Pendidikan Anak Usia Dini di Nias Tersendat

Jakarta, Kompas - Sebanyak 14 posko pendidikan anak usia dini yang dirintis pascagempa bumi dan tsunami di Pulau Nias, Sumatera Utara, hancur berantakan akibat gempa bumi susulan tanggal 18 Maret lalu. Kegiatan trauma konseling bagi anak-anak usia 0-6 tahun di pulau tersebut praktis tersendat.

Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) Depdiknas Fasli Jalal di Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan bahwa ke-14 posko pendidikan anak usia dini tersebut dirintis oleh relawan-relawan, yang sebelumnya sudah mengikuti pelatihan kelompok bermain di Balai Pengembangan PLSP Depdiknas di Medan. Sama seperti puluhan tenaga relawan lainnya yang telah aktif di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), mereka pun bermisi membangkitkan semangat hidup anak-anak usia 0-6 tahun di Nias yang kehilangan orangtua akibat gempa dan tsunami, 26 Desember 2004.

"Begitu gempa susulan terjadi, posko-posko yang didirikan di sisa emperan rumah, tempat ibadah, dan balai desa hancur berantakan. Seorang relawan bahkan meninggal dunia. Kegiatan trauma konseling di Nias bisa diibaratkan kembali ke titik nol. Kita harus memulai lagi," kata Fasli.

Terkait dengan itu, Direktur Pendidikan Anak Dini Usia Depdiknas Gutama mengatakan, saat ini pihaknya kembali mengadakan pelatihan tenaga pengelola dan pendidik kelompok bermain untuk para korban bencana alam di Nias dan wilayah NAD.

"Tantangannya tentu makin besar karena tenaga lokal yang pernah diterjunkan merintis pun masih trauma. Perlu sokongan tenaga baru dengan tetap mengacu standar prosedur wilayah bencana," katanya.

Atas bantuan Unicef, tenaga relawan terdidik yang telah dan akan diterjunkan ke Nias dan NAD mendapatkan biaya operasional Rp 600.000 untuk satu posko. Satu posko ditangani dua orang. Satu orang tenaga diharapkan melayani sekitar 20 anak.

Materi pelatihan diberikan oleh Depdiknas. Adapun perekrutan dan penempatan tenaga relawan ditangani oleh pemerintah setempat.

Menurut Gutama, upaya membangkitkan semangat hidup anak-anak usia prasekolah di daerah bencana perlu terus digalakkan. Alasannya, dalam kondisi normal saja, anak-anak yang tidak tersentuh layanan pendidikan berpotensi putus sekolah. Apalagi jika jiwanya dicekam trauma. (NAR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar